Showing posts with label tulisan. Show all posts
Showing posts with label tulisan. Show all posts
Tamasya Nusantara Sehat Ala Desa Masyai

         Panas terik tidak menghentikan langkah kami untuk menikmati tamasya di desa ini. Hari ini setelah memberikan penyuluhan di sekolah dasar, kami berencana untuk ke bakiori (batu hitam)yang merupakan salah satu tempat dimana  kita dapat melihat pemandangan yang indah. Hempasan ombak yang picah di batu hitam seakan berada di pulau dewata serta pemandangan pantai yang menakjubkan :D
“Ombraen Mura (bahasa biak yang artinya ayo kita jalan)”, kata seorang teman yang bernama Fika. Kita jalan melewati ujung kampung melewati pohon sukun dan ada pohon yang unik. Seperti perpaduan antara pisang dan sukun. Nih videonya :
Ada juga pohon sukun dimana daunnya beda dengan pohon sukun pada umumnya. Bingung juga sih, tapi itulah keunikan yang ada di sini. Walaupun beda tapi hasilnya tetap sama seperti semboyan Indonesiaku Tercinta “ Bhinneka Tunggal Ika (Berbeda-beda tapi tetap sama : penduduk Indonesia)”
Sebelum ke bakiori, kami diajak untuk ke kebun mama. Kami melewati pohon-pohon, air yang becek (sisa air hujan yang masih tertinggal di hutan hehehhe ingat banjir yang biasa dilewati di depan rumahku tapi bedanya saya sekarang bukan di kota tapi desa dengan keasrian poho-pohon dan udara yang sejuk).
Mama, di sini ada ular ya? Kataku. Mama menjawab, “Tidak, di sni tarada ular. Aman” Kata mama membuat kami lebih percaya diri untuk melewati tanaman-tanaman hutan ini. Kalau mau jalan di desa ini, saya sarankan bersama penduduk asli karena bersama mereka kalian bisa lebih aman.
Dijalan kami melewati beberapa penduduk yang potong kayu. mereka menggunakan kayu bakar untuk memasak. Pulau mereka jauh dari kota dan minyak tanah juga mahal. Di sini minyak tanah di jual 8.000-10.000 perliter. Hal yang unik di sni dimana mama yang memiliki peran penting untuk bekerja. Mama di sni lebih banyak kerja dari pada bapak. Bapak tugasnya memcari ikan dilaut atau jaga rumah. Mama yang keluar dari pagi sampai sore untuk berkebun dan ambil kayu.
Ada juga kumpulan penduduk yang membuat sagu(makanan pokok masyarakat desa). Mulai dari proses pengambilan batang sagu menjadi sagu yang siap untuk dijadikan papeda (makanan khas papua).  Sagu berasal dari batang pohon sagu. Setelah batang pohon dipotong, proses selanjutnya yaitu topok sagu (proses pencecahan batang sagu menjadi serbuk sagu). Kemudian setelah menjadi serbuk, sagu diramas (proses pemerasan serbuk sagu yang telah dicampur menjadi air kemudian melewati batang sagu yang panjang sebagai pipa dan muaranya akan terbentuk endapan sagu). Itulah yang mereka lakukan selama berhari-hari di hutan, sagu biasanya mereka makan sebagai makanan pokok dan dijual di kota.
Akhirnya kita sampai juga di rumah persinggahan untuk memasuki kebun dan kamipun istirahat di situ. Tiba-tiba mama dan awer(orang bisu) keluar dari hutan dan membawakan kami kelapa muda. “Enak sampeee (artinya enak banget)” kataku. Baru kali ini lagi minum kelapa muda yang segar. Orang-orang di sini memang baik sekali sama kami. Mereka mengganggap kami seperti penduduk di sana. Saya akui orang pesisir Papua baik banget dan penyayang lagi. Tidak seperti yang biasanya diberitakan di televise kalau orang di Papua itu identik dengan saling bunuh dan tidak akur dengan seperti kami pendatang. Pokoknya senang bekerja di desa ini karena selain bekerja kami bisa tamasya bersama dan mengenal mereka semua baik dari segi kesehatan, pekerjaan dan lainnya.
Hmmm, it’s time to enter the garden. Sekarang kita mau masuk ke kebun. Kebun yang kita lewati banyak sekali, mereka banyak menanam cabe, bayam, kangkung, papaya, ubi jalar, singkong, gedi, dan kacang panjang. Mereka tumbuh subur di kebun. Kami membagi-bagi untuk memetik sayur. Ada yang petik cabe dan kalau saya petik daun ubi jalar + gedi. Daun ubi jalar dan gedy ini tidak pernah kami makan didaerah kami, tapi ternyata orang di sini makan. Kami juga ikut mencoba dan rasanya enak kok. Kalau daun ubi jalar rasanya seperti kangkung, sedangkan gedi rasanya seperti banyam tapi agak licin kalau udah dimakan. Setelah semuanya dipetik, kami duduk santai. 
Mama udah datang dari kebun yang ada di gunung, kemudian kami kembali ditempat istirahat. Kami minum kelapa lagi hehehe lumayan untuk tambah tenaga. Mau bilang makasih sama paman Esau Sawor karena telah memotongkan kelapa :D
Kita melanjutkan perjalanan lewat pantai untuk sampai ke bakiori. Diperjalanan kami dapat ikan karena paman esau sambil mincing. Uniknya di sini kita bisa dapat ikan besar yang enak dengan hanya membuang mata kail di pantai. Memang pantai di sni memiliki kekayaan bawah laut yang menakjubkan. Kita bisa dapat 8 ikan tapi campur sih ada yang kecil dan besar tapi itu cukup untuk makan malam kami hehehe
Akhirnya sampai juga di bakiori dan waktunya untuk santai-santai. Sambil melihat teman-teman mincing, kami menikmati indahnya alam dengan mengabadikannya di lensa kamera. Ini dok. :


Terima kasih udah membaca pengalaman kecil yang sungguh menyenangkan bagi kami. Semoga kalian bisa berkunjung di desa ini juga. Because Nusantara Sehat, We can Stand ini Here, Masyai Island. #myjobmyadventure
(4/08/2016) Rintik hujan pada pagi ini tiada henti membasahi badan kapal biru milik pemerintah kabupaten Supiori. Tapi tidak menurunkan niat 7 ksatria lautan untuk melewati gelombang bersama penduduk setempat. “Bapak yakin aman, kami berangkat bersama Bapak”, katanya.
Dua kapal melaju dengan hati-hati dan berada dekat dengan daratan.
Tingginya gelombang membuat dada berdetak kencang dan badan terasa kaku. Rasanya seperti kora-kora kalo kalian pernah naik. Tapi rasanya beda karena ini pertaruhan maut karena sapa yang mau menolong, kami ada dilautan pasifik dimana daratan terlihat jauh. Gelombang terus menghantam badan kapal sehingga tiada daya untuk berusaha tetap menembus ombak menuju tempat tujuan. Memang pengalaman yang tidak akan pernah saya dapatkan di daerah sendiri. Saya bersama orang-orang yang kuat sehingga bisa memberikan kekuatan untuk terus melaju. Hanya berserah diri kepada allah, sang pemilik alam. Hanya Dialah yang bisa mengubah sesuatu. Terus berdoa agar ombak tetap menjadi teman untuk menuntun kami ke tempat tujuan.


Alhamdulillah, pulau yang kami tuju sudah agak terlihat. Walaupun sangat kecil tapi dapat menghilangkan setitik kecemasan dan ketakutan akan kondisi saat itu. Kapal terus melaju dengan kencangnya. Bapak desa sebagai motorrace kami juga tetap percaya diri membawa fiber tersebut sehingga kita telah sampai di bibir pantai. Terlihat warga di sana menyambut kami dan membantu agar perahu dapat naik di daratan. Hal yang bisa dipetik dari kejadian ini yaitu sungguh pemandangan bahagia ketika melihat warga desa masih memiliki jiwa gotong royong yang tinggi. Setiap perahu yang ada bersandar, mereka bersama-sama menarik perahu sampai ke daratan. Mereka memang baik dan tulus sehingga mereka pantas mendapatkan pelayanan kesehatan dari kami walaupun jauh dari kota.

Salam Nusantara, Sehat untuk kita semua…


My name is Yuliana Sarawan. But you can call me Inku. . I’m pretty and polite. I love Ms. Fany, Ms. Fatma, Ms. Fika, Ms. Suci, Mr. Mari0 and Mr. Nawirku. This is my picture :

Inku adalah salah satu teman kami saat kami melaksanakan tugas sebagai tim Nusantara Sehat di desa Masyai, kabupaten Supiori, Papua. Dia sosok yang tulus dan baik hati. Tapi terkadang dia mau jadi adik kami yang paling kita sayang. Iya sih, dia baik memang dan yang paling kita sayang.

Awal ketemu sama dia di tempat pengisian ulang air galon dengan bantuan Pembangkit Listrik Tenaga Panel Surya - Solar Cells. Hebat juga desa ini punya fasilitas yang cukup baik dan airnya gratis pula. Lanjut lagi ke inku, dia satu-satunya anak desa yang terus ikut sama kami. Mulai dari sampai di pantai, trus ke rumah dan akhirnya sampai di tempat ini. Dia memakai baju warna pink tulisan “I Love Makassar”. Wahhh, itu kampungku hehehhe langsung ingat kampung deh setelah 7 bulan meninggalkannya. “Adik pu nama siapa?”, tanyaku. “Yuli”, jawabnya. “Ko pu rumah di mana?”, Tanyaku lagi. “Di sanae, dua rumah dari sini”, balasnya. Setelah pertemuan itu, dia mulai berkenalan dengan teman-teman yang lain.
Besok harinya, kami bertemu lagi dengan dia setelah keliling pulau. Dia tampak datang sendiri dari kejauhan sana. Terpikir di benakku, dia tidak memiliki teman. Kenapa dia selalu datang sendiri. Tapi setelah beberapa hari, kami pun akrab. Dia mulai membawa temannya untuk main. Nama temannya Marta, Yedi, Eni dan Yaboor. Mereka adalah anak-anak pulau yang pintar dan baik hati. Kalo menangkap ikan dengan memakai nilon dan umpan, mereka jagonya. Dan jago main tentunya.
Teringat kebaikan inku, yang selalu memberi rica (Lombok atau cabe), sayur, ikan dan lainnya karena pulau ini jauh dari daratan yang dapat menyediakan bahan makanan yang cepat. Pulau Masyai, pulau inku ini merupakan pulau yang terjauh kedua dari perbatasan Papua, Indonesia – Philipina. Habislah badan ini dimakan usia jika tidak ada orang-orang pulau yang berbagi dengan kami. Tidak ada pasar, beraspun kita harus menempuh jalur laut minimal 4 jam untuk membelinya. Tapi, sungguh beruntung kami dapat hidup dengan inku dan orang-orang pulau di sini. Mereka sangat baik, walaupun kami sebagai pendatang (kulit, ras, agama beda) tapi kami dihormati sebagai penduduk di sini. Tidak dibeda-bedakan satu sama lain.

Kami tidak akan melupakan semua kenangan dan kebaikan yang pernah inku kasih. Love you Inku, Love Masyai, Love Papua.
Kami dipertemukan karena memiliki misi yang sama yaitu meningkatkan pembangunan kesehatan di DPTK (daerah perbatasan, terpencil dan kepulauan). Tim kami terdiri dari dua cowok ganteng dan empat cewek manis yang masing-masing berasal dari daerah yang berbeda. Kalo kata orang-orang sih dari sabang sampai merauke, tapi kalo kami dari medan sampai papua. Iyakan tim kami ada yang dari medan dan papua. Ohh iya, saya lupa perkenalkan tim ini, kita sebut namanya satu-satu yaa :
1.   Mario P. L. Tnomel, cowok cakep asal NTT biasa dipanggil rio, io, mario. Dia adalah salah satu orang yang dituakan di tim kami, upppss.. tapi walaupun umurnya lumayan jauh dari kami, tapi dia selalu buat kami ketawa. Pokoknya dia gokil dan seru banget kalo cerita hahhaha.. Dan dia itu setia banget sama kak santi, pacarnya yang akan dinikahi setelah 6 bulan bertugas,, Langgeng yaa kak JJ PISS kak Mario
2.     Munawwir Jamrud, cowok cakep asal Ternate punya nama keren loh, dia lebih dikenal dengan Jamrud. Dia juga asik banget kalo cerita dan punya banyak pengalaman. Pengalaman bertugas di wamena, daerah terpencil di Maluku, dan pengalaman cinta hehehe.. Dia itu juga selalu semangat dan terbuka untuk cerita jadi kita semua tertarik untuk mendengarkannya, tapi memang aku salut sama dia karena berbagai pengalaman yang pernah dia miliki.
3.     Sri fany, cewek manis asal medan biasa dipanggil fany. Dia itu strong banget jadi cewek, setiap malam mesti lihat 4-8 slide darah pasien diduga malaria, dan dia juga mesti hitung jumlah parasitnya. Dia juga jago masak dan lucu sih orangnya. Hahhaha, dia itu masa depannya teman aku yang namanya *I*O. Tapi sayangnya fany tidak respect sama sinyal yang dia berikan karena may be bukan tipe dia L
4.     Siti Fatmawati, cewek berkerudung asal NTT ini biasa dipanggil Fatma. Dia itu mama kita di rumah, dia jago masak, jago buat kue,  dan jago segalanya deh. Dia itu tidak ada kurangnya(kata kakak satu itu) dan cocok untuk dijadikan istri. Tapi dia itu takut sama bintang laut, sampai tidak mau pegang karena geli katanya. Pada hal bintang laut itu kalo dipegang, biasa saja sih. Dia juga sosok bidan teladan
5.     Nur fikrianti, cewek asal kota ibu kota DKI Jakarta ini biasa dipanggil Fika. Dia itu ahli gizi satu-satunya di puskesmas kami. She always take picture our activity, yaa kami sebutnya dia jurnalis di tim kami. Dia lagi jomblo loh hehehe :D
(Foto : Bersama Ibu Irma Fitriana Herman, Pusrengun Kemenkes RI)

(Foto : Rumah Dinas Tim Nusantara Sehat Puskesmas Sabar Miokre)

       Tempat berteduh kami tidak terlalu besar namun muat untuk tim kami. Tempat ini akan kita tempati bersama, senang maupun susah. Tempat ini akan menjadi saksi pengabdian kita di tanah Papua. Keep smile guys and have more, want less. 
(late post)

Jobseeker, menurut kamus bahasa bugis, jobseeker artinya pencari kerja. Iya itulah gelarku sekarang. Setelah hari wisuda selesai, saya adalah seorang jobseeker. Mencari informasi perusahaan-perusahaan yang membuka lowongan kerja. Tapi tidak ada satupun yang sesuai dengan bidang saya yaitu kesehatan masyarakat. Rata-rata yang mereka butuhkan yaitu sarjana teknik, manajemen, ekonomi dan hokum. Tapi hal tersebut tidak mematahkan semangat saya dan teman-teman. Setiap jobfair, selalu saya ikuti. Walaupun jobfair itu kecil kemungkinan untuk lulus. Dari 10 berkas yang saya sebar, hanya 2 yang ada panggilan ke kantor. Tapi perusahaannya tidak meyakinkan, jadi mundur dari seleksi.


Saya juga pernah ikut seleksi BPJS ketenagakerjaan, Alhamdulillah sampai seleksi tes psikologi. Kemudian saya mencoba untuk masuk jadi MDT (Medical Delegate Traine) di Pt. Nestle Indonesia. Rekruitmen PT. Nestle is the best recruitment because you must have the great spirit to join it. Semangat memiliki arti penting dalam kehidupan, tanpa semangat semua hal tidak akan bermanfaat. Semua pekerjaan akan sia-sia karena tidak ada power dalam diri untuk melakukan hal yang luar biasa.
Saya mengikuti tes perekrutan PT. Nestle bersama 2 orang teman, namanya Sekar dan Rahma. Kami diwawancarai oleh seorang yang membuat saya kagum, ibu titi. Ibu titi memberikan pertanyaan dengan menggunakan bahasa Inggris. Saya pun memperkenalkan diri dengan bahasa bahasa inggris. Kemudian pertanyaan selanjutnya, saya tidak bisa lagi menjawab dengan benar dalam bahasa inggris. Tapi bu titi memberikan kesempatan dan akhirnya saya dapat melanjutkan ke tahap FGD (focus group discussion). Saya, rahma dan kak ita melanjutkan tahap ini dan kami membahas prioritas utama dari kasus yang diberikan dan kami n dalam bahasa inggris. Alhamdulillah, kami diberikan kesempatan untuk wawancara selanjutnya. Alhamdulillah, saya dan kak ita lulus untuk mengikuti Join Visit ditemani MDT. Saya ditemani oleh senior gizi di FKM angkatan geleter, dia asik dan bagi ilmu tidak ragu-ragu. Dia berbagi pengalaman wawancara dan saat jadi MDT. Dari nol dia bangun karier dan akhir dia sudah bisa mendapat mobil dinas setelah bekerja selama 1.5 tahun. Dia juga telah bekerja sama dengan beberapa puskesmas, bidan praktek dan pustu. Saya diajakan keliling kabupaten Gowa dengan mobil avanzanya, dan saya mendapatkan inti dan keseruan bekerja sebagai MDT. Waktu kerja lebih banyak di lapangan dan bertemu dengan professional kesehatan yang baru pula serta menjalin komunikasi yang baik dengan mereka. Setelah join visit, rejeki anak sholeh hehehe saya diteraktir makan ayam yang lezat, nama warungnya itu “Cangkuning”. Mantap… J
Setelah beberapa hari, waktunya untuk tes terakhir. Katanya ibu Helen dan pak Robert, pemilik PT. Nestle akan wawancara kami. Kami menunggu beberapa jam sampai akhirnya jam 4.30 saya dipanggil untuk wawancara. Detak jantung, kian cepat seraya berjalan menuju pintu ruang wawancara. Bismillahirrahmanirrahim … Begitu banyak pertanyaan yang mereka ajukan dan 20 menit berlalu, wawancara selesai. Terima Kasih Ibu Helen, Bapak Robert. Besok hari, saya kabar buruk menghampiri dan ternyata saya bukan orang yang mereka butuhkan. Hal tersebut tidak mematahkan semangat saya untuk mencari informasi perekrutan karyawan. Saat bulan September tiba, Pendaftaran Team Based Nusantara Sehat dibuka dan inilah cerita awal perjuangan saya untuk menjadi pejuang kesehatan.
Beda tempat, beda pengalaman. Inilah yang kami rasakan menyambut Hari Kemerdekaan Republik Indonesia di kabupaten Supiori, provinsi Papua. Semua instansti mulai dari sekolah, pemerintah dan masyarakat turut meramaikan acara ini. Setiap tahun dari pemerintah kabupaten Supiori mengadakan perayaan menyambut hari HUT RI ke-71 dan kali ini keramaian dapat kita lihat di pusat kabupaten yaitu Sorendiweri.
Dua hari di Sorendiweri, kami menyaksikan berbagai budaya dan pertandingan olahraga. Penampilan yang mereka berikan kepada penonton sangat baik dan sangat antusias. Hari pertama, kami menyaksikan karnaval yang diikuti oleh anak sekolah. Depan barisan mereka memegang lambang garuda dan foto presiden Jokowi serta wakilnya Jusuf Kalla. Dengan dada yang tegap mereka membawa bendera Merah Putih, pusaka Indonesia. Dibarisan selanjutnya, mereka memakai seragam dengan berbagai profesi, mulai dari petani, pelaut, polisi, pendeta, suster, perawat, penyanyi, guru, ustazd, atlit sampai bupati. Ada juga yang memakai baju yang erasal dari kulit kayu sehingga membentuk baju rumbai yang unik. Mereka juga berjalan sambil melantunkan lagu-lagu sehingga semngat mereka semakin berkobar. Mereka berjalan mulai dari sekolah dan berakhir di tugu Supiori depan kantor Distrik. Hari ini seru tapi tidak terlalu ramai karena hanya diikuti oleh dua sekolah yaitu SMP Negeri 4 Mansoben dan SMA Negeri 3 Yenggarbun.
Selain itu, setiap hari ada pertandingan bola voli dan bola kaki mempebutkan piala HUT RI. Setiap kecamatan dan instansi mengirimkan wakilnya untuk bertandi di lapangan tersebut. Hal itu membuat sorendiweri ramai karena semua masyarakat mulai dari pulau-pulau kecil yang jauh datang untuk bertanding di sana. Pokoknya mereka sangat antusias dengan olahraga tersebut.
Hari kedua di Supiori lebih ramai lagi karena ada 14 kelompok yang menyajikan Gerak Jalan Yospan. Yospan merupakan salah satu tarian khas papua yang paling terkenal di daerah ini. Yospan memiliki beanekaragam gerakan dan sudah dimodifikasi dengan berbagai tarian sehingga tarian yospan yang kami lihat seperti tarian kontemporer. Selain tarian, mereka menampilkan busana yang sangat mempesona dengan berbagai corak warna dan aksesoris tradisional. Setiap mata tertuju pada setiap kelompok yang bergoyang. Pada hari ini, tarian tersebut dapat memanjakan mata anak rantauan seperti kami yang baru saja menginjak Tanah Papua. Momet ini sangat berkesan karena hanya ada setiap setahun sekali. Enjoy with it.

Apalah arti anak rantauan kalau tidak ada teman baru. Sangat-sangat berterima kasih kepada Magdalena Kafiar, Pakpol Pahala Sibuea dan Nugie. Sebagai teman sekaligus tour guide. Enjoy with them J J J







            IIIIIII










(16/06/2016) Malam menyambut langkah menuju pantai Meosbifondi. Bulan sabit bagaikan lentera menerangi seluruh pulau. Suara ombak bagaikan musik klasik menemani aktivitas api yang membara dan pohon kelapa berbaris rapi. Bosca Masyai yang didalamnya terdapat mata sebagai teropong dan bentangan tikar menemani untuk menikmati indahnya angkasa. Mata memang merupakan kamera yang sangat memukau untuk memotret keindahan di pulau ini. Walaupun punya kamera namun tidak bisa memotret indahnya langit malam. Bulan dan ribuan bintang sangat dekat di mata dan tangan hampir bisa menggapai bintang. Alam terasa bulat dan dekat bagaikan “Bosca Bandung”.

Suasana di malam itu merupakan moment bahagia yang pernah saya rasakan. Begitu menakjubkan ciptaan tuhan di tanah papua ini. Tanah yang tidak pernah terpikirkan atau mimpikan untuk mengunjungi tempat ini. Padahal begitu banyak rahasia alam. Bisa dikatakan Papua ini sama dengan “Amazing Secret”, menyimpan banyak rahasia jika kita tidak pernah kunjungi. So, Visit To Indonesia, Visit To Papua.

Salam Nusantara, Papua Indah untuk kita semua.
       Mama ibu, itulah panggilan untuk seorang guru perempuan asal desa Napisndi. Desa Napisdi merupakan salah satu desa yang berada di provinsi Papua. Desa Napisdi memiliki akses transportasi yang cukup sulit karena jembatan untuk menghubungkan dengan kabupaten terputus. Maka dari itu, untuk menjangkau desa ini harus melewati tingginya gelombang laut. Walaupun begitu, sosok guru tangguh bernama Karolina Rumabur, mengabdikan dirinya untuk mengajar anak-anak desa selama 12 tahun silam hingga saat ini.
       Beliau terkenal sebagai sosok guru teladan. Ibu memiliki jiwa yang besar untuk bertahan di sekolah. Ada saat dimana dia harus mengajar kelas 1 sampai kelas 6 untuk semua mata pelajaran selama sehari. Pada hal, dia adalah guru agama yang hanya memiliki jam masuk mengajar untuk mata pelajaran agama, namun dia harus merangkap karena kurangnya guru yang bersedia mengajar di sekolah atau bisa dikatakan guru tidak disiplin dan bertanggung jawab.


Foto beliau bersama kedua anaknya (Dea dan Martina dari kiri ke kanan)

       Tak dipungkiri, ibu biasa mendapat sorotan dari orang tua siswa karena guru-guru tidak aktif mengajar sehingga anak tidak mendapat pendidikan yang seharusnya dia dapat. Perkembangan pendidikan anak mereka yang lambat karena beberapa guru yang tidak aktif. Hal ini membuktikan bahwa pendidikan di desa ini sungguh miris. Kapan pendidikan merata di seluruh Indonesia kalau guru saja tidak sadar untuk membangun pendidikan? Mereka guru sebagai agent of change untuk generasi bangsa sudah tidak peduli lagi dengan anak didik mereka. Tapi, masih ada hati yang baik di antara mereka yaitu mama ibu. Sang pahlawan pendidikan dari desa Napisdi.
       Air mata mengalir tiada hentinya di hati ketika melihat anak-anak sekolah hanya memiliki satu guru untuk kelas satu sampai kelas 6. Ini salah satu PR kita semua untuk mengulurkan tangan walaupun profesi bukan guru. Nawacita salah satu program dari presiden kita yaitu membangun dari pinggiran. Membangun Pendidikan dari pinggiran supiori barat belum terasa, mereka sang pendidik masih leluasa meninggalkan tugasnya sebagai pendidik. Mungkin karena desa ini sungguh sepi dan sunyi, tidak ada listrik, tidak ada sinyal, dan sulit akses informasi membuat para pendidik tidak betah mengajar. Mungkin pengawasan dari kabupaten ini masih kurang, atau perlukah dari pusat melihat langsung kondisi ini? Pertanyaan ini akan jadi pertanyaan karena tidak akan ada jawaban. Kenapa? Kenapa?
       Melihat anak desa ini membuat iri karena mereka masih menikmati indahnya alam papua. Belum tersentuh dengan industri yang bisa merusak alam-alam. Lompat di kali, bermain di pantai, memanjat pohon pinang dan pohon kelapa yang cukup tinggi. Mereka itu anak-anak Papua yang kuat, berjalan dari Napisdi (pantai) ke Marur (marur = tanah merah sebutan masyarakat desa) atau sebaliknya melewati hutan untuk bermain dan menikmati bangku sekolah. Mereka juga sangat antusias untuk menikmati indahnya pelajaran. Mereka memiliki semangat untuk dapat membaca, berhitung dan menyanyi.
       Di atas adalah  salah satu rekaman kehidupan di Papua, hal ini mungkin hanya cerita kecil tapi merupakan potret dari pendidikan bangsa kita Indonesia. Kata terakhir “Terima kasih untuk para guru yang telah berjuang untuk meningkatkan kecerdasan generasi muda”.

Sebelum saya akhiri tulisan ini, ada MOB :
Suatu hari di suatu sekolah, murid-murid sedang asik belajar.
Bapak Guru : 1+1, berapa anak-anak?
Murid           : Anak murid semua diam
Bapak Guru : Kalian goblok semua. Masa 1+1, tidak tahu?
Suara tersebut terdengar oleh seorang ibu yang letak rumahnya di samping sekolah. ibu itu sedang mencuci. Mendengar anaknya dibilang goblok sama gurunya. Sang ibu berbicara, “1+1 = 2, 2 hari di kampung 2– 3 bulan di kota”.

Salam Cerdas, Salam untuk kita semua
       Kampung kecil bernama Napisndi ini memiliki alam yang sangat mempesona. Setiap sudut memberikan keindahan yang berbeda-beda. Mulai dari kita memasuki kawasan memberikan pemandangan bawah laut yang indah dengan pasir yang putih, pohon berjejeran dengan rapi dan ombak halus yang menghantam tebing setiap detik. Suara ombak yang halus disertai iringan goyangan pohon dan kicauan sang Yakob (nama salah satu burung yang memiliki warna bulu yang indah). Untuk sampai ke kawasan rumah tinggal penduduk kita dapat melewati tiga jalur, yaitu :

1. Prafdo (gunung)
Melewati prafdo adalah salah satu jalur yang memakan tenaga dan waktu yang cukup panjang. Adanya tanjakan dan turunan yang harus dilalui. Apalagi kalau membawa barang yang banyak harus butuh tenaga yang ekstra.





2. Salobar (mata air)
Ini salah satu jalur yang paling diminati karena paling dekat dengan kampung. Tapi hanya waktu-waktu tertentu kita dapat memaluinya yaitu jika air pasang. Sebelum sampai di salobar, napisndi menyuguhkan pemandangan laro (pohon bakau dalam bahasa Biak) yang berjejer rapi dan gua dengan karst yang indah 


3. Pantai napisndi
Jalur terakhir adalah melewati pantai Napisndi, merupakan jalur yang cukup memberikan tantangan. Tantangan ketika gelombang air laut bergejolak karena tebing-tebing berada dijalur tersebut.

Memasuki area kampung kita akan bertemu dengan penduduk asli. Mayoritas penduduk bekerja sebagai nelayan dan petani. Hidup dengan keterbatasan yang ada tidak membuat mereka putus asa menjalani hidup. Mereka pintar menangkap ikan, berkebun, menyanyi, berenang, yospan (tarian asal Papua), dan memasak berbagai panganan khas Papua. Namun, hal yang membuat miris ketika pengetahuan mereka mengenai kesehatan dan pendidikan masih kurang.

Melihat berbagai permasalahan yang ada, tim nusantara sehat dengan mengemas misi Keluarga Sehat 2016 turun untuk membantu menyelesaikan masalah kesehatan yang didukung oleh masyarakat dan lintas sektor. Kunjungan rumah diprioritaskan untuk menyelesaikan masalah ditingkat rumah tangga, yaitu minimal setiap keluarga tahu dan bisa menerapkan pola Hidup Bersih dan Sehat. Agar masyarakat mau bergerak, kami mengajak kerja sama semua pihak yang berkepentingan dengan mengadakan Lomba PHBS Rumah Tangga. Masyarakat sangat antusias dengan kegiatan tim Nusantara Sehat, beberapa rumah telah ada tempat cuci tangan, bambu rokok dan tempat sampah. Kami merasakan bahwa untuk mengubah perilaku masyarakat membutuhkan proses yang panjang dan tidak mudah. Semoga apa yang kami tinggalkan menjadi bekal dalam kehidupan sehingga masyarakat kampung ini dapat sehat dan sejahtera.

Melihat berbagai permasalahan yang ada, tim nusantara sehat dengan mengemas misi Keluarga Sehat 2016 turun untuk membantu menyelesaikan masalah kesehatan yang didukung oleh masyarakat dan lintas sektor. Kunjungan rumah diprioritaskan untuk menyelesaikan masalah ditingkat rumah tangga, yaitu minimal setiap keluarga tahu dan bisa menerapkan pola Hidup Bersih dan Sehat. Agar masyarakat mau bergerak, kami mengajak kerja sama semua pihak yang berkepentingan dengan mengadakan Lomba PHBS Rumah Tangga. Masyarakat sangat antusias dengan kegiatan tim Nusantara Sehat, beberapa rumah telah ada tempat cuci tangan, bambu rokok dan tempat sampah. Kami merasakan bahwa untuk mengubah perilaku masyarakat membutuhkan proses yang panjang dan tidak mudah. Semoga apa yang kami tinggalkan menjadi bekal dalam kehidupan sehingga masyarakat kampung ini dapat sehat dan sejahtera.
Tempat Cuci Tangan (Tippy Tap)

Tempat Sampah

Bambu Rokok

Misi yang kedua yaitu kolaborasi pendidikan dan kesehatan untuk melahirkan generasi sehat yang siap membangun bangsa. Tim nusantara sehat Puskesmas Sabar Miokre mengadakan kegiatan UKS Ceria (Upaya Kesehatan Sekolah Cerdas, Energik, Riang, Inovatif dan Andalan Sekolah) dan Taman Baca Masyarakat yang telah direvitalisasi dan disesuaikan dengan kondisi yang ada di lapangan. Kegiatan preventif yang diprioritaskan untuk memberikan informasi kesehatan kepada anak-anak yaitu kegiatan penyuluhan interaktif, role play, diskusi, lomba poster, mading sehat dan games sehat. Anak-anak sangat antusias dan mulai mengubah perilaku mereka. Mereka mulai memperhatikan kuku kaki dan tangan, membuang sampah pada tempatnya, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir serta semangat ketika ada kerja bakti. Sungguh hal yang memuaskan ketika hal yang telah kita rencanakan membuahkan hasil yang baik dan membantu anak-anak agar menerapkan pola hidup bersih dan sehat. Anak-anak merupakan salah satu sasaran yang cukup signifikan untuk mengubah perilaku masyarakat. Karena orang tua akan merasa malu  jika anaknya menegur. Mimpi kami kedepannya yaitu anak sekolah senantiasa mengingatkan keluarganya untuk berperilaku hidup bersih dan sehat sehingga dapat tercapai Keluarga Sehat 2016.


Lomba Poster Kesehatan

Cuci Tangan Pakai Sabun dan Air Mengalir

Menyanyi " Yel-yel Gizi Seimbang"


Senam Anak Sehat


Materi Motivasi : Cita-citaku

Layaknya pohon yang akan tumbuh jika ada matahari, air dan udara,
Tanpa hal tersebut pohon akan mati
Seperti kegiatan preventif (pencegahan) yang dijalankan akan menghasilkan generasi sehat jika masyarakat, petugas pustu dan kader kesehatan bertanggung jawab untuk melanjutkan hal tersebut
Tanpa hal tersebut, kegiatan akan sia-sia dan menghilang seiring berjalannya waktu.
Salam sehat, Sehat untuk pembaca tercinta..


(13/02/2016) Tim Nusantara Sehat melangkahkan kakinya untuk memberikan pelayanan kesehatan untuk masyarakat yang tinggal di pulau yang memiliki akses transportasi dan informasi yang cukup sulit. Pulau ini terkenal dengan julukan “Sunyi, Sepi dan Sendiri”. Kenapa? Banyak orang yang bertanya-tanyakan? Di pulau ini tinggal 48 Kepala Keluarga, mereka tinggal bersama alam. Tidak ada sinyal, tidak ada listrik dan hanya ada satu sumber air yaitu sumur dan kebanyakan mereka menampung air hujan dan dijadikan sebagai sumber air bersih dan air minum mereka. Akses pelayanan kesehatan baru lagi masuk tahun 2015 setelah 2 tahun kosong karena tidak ada petugas kesehatan. 

Salam Nusantara, Sehat untuk kita semua…

Papua itu indah akan alamnya, laut hutan masih asri dipandang mata.
Papua itu ramah akan orangnya, senyum dan sapaan jika bertemu sudah membudaya.
Papua itu tak menentu cuacanya, kadang terang kadang hujan lagi.
Papua itu punya cerita bagi pendatang, cerita kami berawal di salah satu pesisir Papua, Kampung Sabar Miokre, Distrik Supiori Barat.
       Kami adalah tim nusantara sehat yang ditugaskan di Daerah Perbatasan Terpencil dan Kepulauan. Misi kami yaitu menjadikan masyarakat yang sehat dan memiliki akses pelayanan kesehatan yang mudah serta menjadikan generasi Distrik Supiori Barat menjadi anak yang memiliki impian yang tinggi melalui program yang akan kami jalankan. 
     Hari pertama, kami disambut dengan baik oleh kepala Puskesmas Sabar Miokre, ibu Ruhaya. Beliau memberi support untuk kami dapat memberikan pelayanan kesehatan yang baik bagi masyarakat. Satu kata yang tidak pernah kami lupa yaitu beliau mengatakan ikhlas dalam melayani itu merupakan pondasi utama untuk tetap memberikan yang terbaik bagi masyarakat.
       Hari kedua, kami berkenalan dengan tenaga kesehatan di Puskesmas. Ada kak evelin (perawat gigi), kak Debora(analis kesehatan), kak katty(bagian registrasi), kak reni(bidan). Senyuman mereka membuat kami betah di sini dan dalam beberapa hari beradaptasi dengan pegawai puskesmas. Hari pertama kerja memang melelahkan, banyak pasien sehingga kami membantu dalam pelayanan tersebut. Setiap hari di puskesmas kami pasti dapat pasien dengan gejala trias malaria (demam, menggigil, dan berkeringat)dan rata-rata mereka semua positif. Papua Endemis Malaria, salah satunya di wilayah kerja Puskesmas Sabar Miokre. Kami nusantara sehat berkewajiban untuk membantu masyarakat untuk menurunkan angka kesakitan, malaria. Ayo Gotong Royong Berantas Malaria. 
Ini video kami sewaktu jalan-jalan di desa Waryei, Distrik Supiori Barat, Kab. Supiori, Provinsi Papua

To be continue…