Showing posts with label berita. Show all posts
Showing posts with label berita. Show all posts

Tidak pernah terbayangkan kami dapat melakukan kegiatan tanggal 1 Desember. Beragam issue mengenai tanggal ini. Sehari sebelum hari H ternyata semua instansi pemerintah dan bank libur pada tanggal tersebut. Ada apa dengan tanggal 1 Desember? Seluruh Papua libur. Siapa yang akan ikut dengan kegiatan kami? Ternyata tanggal 1 Desember merupakan hari kemerdekaan mereka (beberapa pihak terkait) seperti 17 Agustus. Pihak kepolisian dan tentara siaga satu serta masyarakat disuruh agar tetap waspada. Tapi, semua issue tersebut tidak mematahkan semangat panitia Peringatan Hari AIDS Sedunia tahun 2016 untuk memberikan tenaga dan pikirannya.
Yuuk lihat persiapan panitia :
1.       
Bunga yang berisi pesan kesehatan
syalalala ...  it's very beautiful

Pita lambang AIDS
Piece mas bro 

Poster yang berisi pesan kesehatan


 Kain Harapan

Konsumsi

Make up Artist Team

Dan akhirnya sekarang sudah tanggal 1 Des 2016 8.30 a.m. kami sudah berkumpul di depan dinas kesehatan. Lumayan massa yang telah dikumpulkan mulai dari tim dinas kesehatan,tim  rumah sakit, tim nusantara sehat serta ODHA.  Sebelum jalan, ibu O"lince memandu untuk berdoa agar diberikan kelancaran dalam melaksanakan kegiatan ini. Aamiin

Let’s start

08.45. Pawai HIV-AIDS dimulai dengan mengumandangkan yel-yel “Hapus AIDS” dan “Pisang Donat”. Setiap orang memegang bunga dan pamphlet AIDS yang dibagikan kepada setiap orang yang dilewati. Selain itu, penyebaran informasi mengenai AIDS disampaikan lewat mobil Keminfo agar masyarakat lebih mengetahui info tersebut dan segera memeriksakan kesehatannya jika mereka sadar kalau berisiko. Slogan dalam acara ini yaitu Jauhi Penyakitnya, Bukan Orangnya. Pawai berjalan lancar  dan aman karena dikawal dari pihak kepolisian.
Finish
09.30. Di pertigaan Sorendiweri   merupakan titik akhir pawai HIV-AIDS.  Akan ada acara pembukaan yang dihadiri Wakil Bupati Kabupaten Supiori, Bapak Onesias Rumere, S.Sos. Sambil menunggu kedatangan beliau, kami mempersembahkan yel-yel sekaligus memberikan pita dan bunga  kepada masyarakat.

Bapak Onesias Rumere, S.Sos dan Ibu Olince


10.00 Wakil bupati datang berserta wakapolres, komandan rindam dan kepala distrik Supiori Timur. Acara dibuka dengan khitmad oleh bapak wakil bupati. Sekaligus menulis harapan serta ttd di kain harapan Hari AIDS Sedunia 2016. Setelah itu acara selanjutnya, musikalisasi puisi yang diisi oleh ODHA (Orang Dengan HIV AIDS). ODHA yang diperankan oleh panitia ( Yusuf, Nawir dan Ike) membuat aksi teatrikal agar masyarakat mengetahui akibat jika tertular oleh virus HIV.
10.45 Pembagian Doorprise untuk peserta pawai dan setelah itu ditutup dengan berdoa bersama. Semangat para pejuang kesehatan untuk menyuarakan HIV dan AIDS bisa dicegah dengan ABCD :
A (Anti Seks Bebas)
B(Benar-benar Setia)
C(Cukup gunakan kondom)
D(Dan jauhi Narkoba)
Serta segera ikuti VCT (Voluntery Conseling Test) di puskesmas atau rumah sakit terdekat. Gratis Loh !!

Behind the Scene :

Duo Koordlap tetap senyum walau terik matahari 

12 orang berhasil naik ambulans. Over Bagasi nih.

Tugu yang menjadi icon Supiori

Wajah kebersamaan panitia merupakan momen yang tidak akan pernah dilupakan. Kebersamaan selama dua hari akhirnya memberikan hasil yang memuaskan. Keep fighting dan semoga kita dipertemukan pada kegiatan selanjutnya. 
Salam Hangat, Kasumasa 
(bahasa biak yang artinya terima kasih)
#NusantaraSehat #DinasKesehatan #RumahSakitMasram #KabupatenSupiori #Papua

Kami dipertemukan karena memiliki misi yang sama yaitu meningkatkan pembangunan kesehatan di DPTK (daerah perbatasan, terpencil dan kepulauan). Tim kami terdiri dari dua cowok ganteng dan empat cewek manis yang masing-masing berasal dari daerah yang berbeda. Kalo kata orang-orang sih dari sabang sampai merauke, tapi kalo kami dari medan sampai papua. Iyakan tim kami ada yang dari medan dan papua. Ohh iya, saya lupa perkenalkan tim ini, kita sebut namanya satu-satu yaa :
1.   Mario P. L. Tnomel, cowok cakep asal NTT biasa dipanggil rio, io, mario. Dia adalah salah satu orang yang dituakan di tim kami, upppss.. tapi walaupun umurnya lumayan jauh dari kami, tapi dia selalu buat kami ketawa. Pokoknya dia gokil dan seru banget kalo cerita hahhaha.. Dan dia itu setia banget sama kak santi, pacarnya yang akan dinikahi setelah 6 bulan bertugas,, Langgeng yaa kak JJ PISS kak Mario
2.     Munawwir Jamrud, cowok cakep asal Ternate punya nama keren loh, dia lebih dikenal dengan Jamrud. Dia juga asik banget kalo cerita dan punya banyak pengalaman. Pengalaman bertugas di wamena, daerah terpencil di Maluku, dan pengalaman cinta hehehe.. Dia itu juga selalu semangat dan terbuka untuk cerita jadi kita semua tertarik untuk mendengarkannya, tapi memang aku salut sama dia karena berbagai pengalaman yang pernah dia miliki.
3.     Sri fany, cewek manis asal medan biasa dipanggil fany. Dia itu strong banget jadi cewek, setiap malam mesti lihat 4-8 slide darah pasien diduga malaria, dan dia juga mesti hitung jumlah parasitnya. Dia juga jago masak dan lucu sih orangnya. Hahhaha, dia itu masa depannya teman aku yang namanya *I*O. Tapi sayangnya fany tidak respect sama sinyal yang dia berikan karena may be bukan tipe dia L
4.     Siti Fatmawati, cewek berkerudung asal NTT ini biasa dipanggil Fatma. Dia itu mama kita di rumah, dia jago masak, jago buat kue,  dan jago segalanya deh. Dia itu tidak ada kurangnya(kata kakak satu itu) dan cocok untuk dijadikan istri. Tapi dia itu takut sama bintang laut, sampai tidak mau pegang karena geli katanya. Pada hal bintang laut itu kalo dipegang, biasa saja sih. Dia juga sosok bidan teladan
5.     Nur fikrianti, cewek asal kota ibu kota DKI Jakarta ini biasa dipanggil Fika. Dia itu ahli gizi satu-satunya di puskesmas kami. She always take picture our activity, yaa kami sebutnya dia jurnalis di tim kami. Dia lagi jomblo loh hehehe :D
(Foto : Bersama Ibu Irma Fitriana Herman, Pusrengun Kemenkes RI)

(Foto : Rumah Dinas Tim Nusantara Sehat Puskesmas Sabar Miokre)

       Tempat berteduh kami tidak terlalu besar namun muat untuk tim kami. Tempat ini akan kita tempati bersama, senang maupun susah. Tempat ini akan menjadi saksi pengabdian kita di tanah Papua. Keep smile guys and have more, want less. 
(late post)

Jobseeker, menurut kamus bahasa bugis, jobseeker artinya pencari kerja. Iya itulah gelarku sekarang. Setelah hari wisuda selesai, saya adalah seorang jobseeker. Mencari informasi perusahaan-perusahaan yang membuka lowongan kerja. Tapi tidak ada satupun yang sesuai dengan bidang saya yaitu kesehatan masyarakat. Rata-rata yang mereka butuhkan yaitu sarjana teknik, manajemen, ekonomi dan hokum. Tapi hal tersebut tidak mematahkan semangat saya dan teman-teman. Setiap jobfair, selalu saya ikuti. Walaupun jobfair itu kecil kemungkinan untuk lulus. Dari 10 berkas yang saya sebar, hanya 2 yang ada panggilan ke kantor. Tapi perusahaannya tidak meyakinkan, jadi mundur dari seleksi.


Saya juga pernah ikut seleksi BPJS ketenagakerjaan, Alhamdulillah sampai seleksi tes psikologi. Kemudian saya mencoba untuk masuk jadi MDT (Medical Delegate Traine) di Pt. Nestle Indonesia. Rekruitmen PT. Nestle is the best recruitment because you must have the great spirit to join it. Semangat memiliki arti penting dalam kehidupan, tanpa semangat semua hal tidak akan bermanfaat. Semua pekerjaan akan sia-sia karena tidak ada power dalam diri untuk melakukan hal yang luar biasa.
Saya mengikuti tes perekrutan PT. Nestle bersama 2 orang teman, namanya Sekar dan Rahma. Kami diwawancarai oleh seorang yang membuat saya kagum, ibu titi. Ibu titi memberikan pertanyaan dengan menggunakan bahasa Inggris. Saya pun memperkenalkan diri dengan bahasa bahasa inggris. Kemudian pertanyaan selanjutnya, saya tidak bisa lagi menjawab dengan benar dalam bahasa inggris. Tapi bu titi memberikan kesempatan dan akhirnya saya dapat melanjutkan ke tahap FGD (focus group discussion). Saya, rahma dan kak ita melanjutkan tahap ini dan kami membahas prioritas utama dari kasus yang diberikan dan kami n dalam bahasa inggris. Alhamdulillah, kami diberikan kesempatan untuk wawancara selanjutnya. Alhamdulillah, saya dan kak ita lulus untuk mengikuti Join Visit ditemani MDT. Saya ditemani oleh senior gizi di FKM angkatan geleter, dia asik dan bagi ilmu tidak ragu-ragu. Dia berbagi pengalaman wawancara dan saat jadi MDT. Dari nol dia bangun karier dan akhir dia sudah bisa mendapat mobil dinas setelah bekerja selama 1.5 tahun. Dia juga telah bekerja sama dengan beberapa puskesmas, bidan praktek dan pustu. Saya diajakan keliling kabupaten Gowa dengan mobil avanzanya, dan saya mendapatkan inti dan keseruan bekerja sebagai MDT. Waktu kerja lebih banyak di lapangan dan bertemu dengan professional kesehatan yang baru pula serta menjalin komunikasi yang baik dengan mereka. Setelah join visit, rejeki anak sholeh hehehe saya diteraktir makan ayam yang lezat, nama warungnya itu “Cangkuning”. Mantap… J
Setelah beberapa hari, waktunya untuk tes terakhir. Katanya ibu Helen dan pak Robert, pemilik PT. Nestle akan wawancara kami. Kami menunggu beberapa jam sampai akhirnya jam 4.30 saya dipanggil untuk wawancara. Detak jantung, kian cepat seraya berjalan menuju pintu ruang wawancara. Bismillahirrahmanirrahim … Begitu banyak pertanyaan yang mereka ajukan dan 20 menit berlalu, wawancara selesai. Terima Kasih Ibu Helen, Bapak Robert. Besok hari, saya kabar buruk menghampiri dan ternyata saya bukan orang yang mereka butuhkan. Hal tersebut tidak mematahkan semangat saya untuk mencari informasi perekrutan karyawan. Saat bulan September tiba, Pendaftaran Team Based Nusantara Sehat dibuka dan inilah cerita awal perjuangan saya untuk menjadi pejuang kesehatan.
         Keindahan alam Papua tak diragukan lagi. Beberapa tahun terakhir Papua jadi destinasi wisata yang banyak diminati turis asing dan dalam negeri. Tapi Papua pun identik dengan kasus malaria tertinggi di Indonesia. Hal tersebut mungkin masih memberikan rasa khawatir bagi pendatang atau wisatawan yang hendak mengunjungi pulau dengan sejuta pesona itu.
         Dulu untuk mengunjungi Papua seseorang perlu meminum obat khusus dengan durasi pemakaian yang cukup panjang. "Dulu kalau kita mau pergi ke daerah malaria kita harus meminum obatkemoprofilaksis malaria yang pemakaiannya cukup lama, sekitar satu minggu sebelum berangkat hingga saat sampai disana dan setelah kembali ke tempat," ujar dr. H. Mohamad Subuh, MPPM, Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P)Kemenkes RI, Rabu (20/4/2016).
            Penggunaan obat ini rupanya tidak efektif bagi kesehatan penggunanya. Menurut Subuh efek samping dari penggunaan obat tersebut akan berujung pada permasalahan lambung dan beberapa kerugian yang lebih banyak lagi.
          Untuk menghindari efek samping yang merugikan dari penggunaan obat tersebut, Subuh memaparkan beberapa langkah alami untuk menjaga tubuh dari serangan malaria saat mengunjungi daerah tinggi kasus malaria seperti Papua.
            "Sekarang ada cara natural, pakailah lotion anti nyamuk, memakai pakaian yang lebih tertutup untuk menghindari gigitan nyamuk, dan yang paling efektif ialah menggunakan kelambu berinsektisida. Kalau nginap di hotel ya nyalakan AC-nya dan carilah obat nyamuk yang elektrik, mungkin ini lebih efektif daripada pemakaian obat minum. Dan jangan begadang - karena nyamuk malaria ini hobi keluar malam," ungkapnya sambil tertawa.

Sumber>>liputan6.com


Ini adalah berita yang ditunggu-tunggu oleh tenaga kesehatan seluruh Indonesia. Dengan bergabung menjadi tim Nusantara Sehat merupakan pembuktian nyata dari pembelajaran di kampus serta dapat memberikan yang terbaik untuk kesehatan masyarakat di Indonesia yang berada di pelosok dan tidak memiliki akses pelayanan kesehatan yang cukup.
Tim Based Nusantara Sehat dibentuk dengan tujuan untuk mewujudkan Kebijakan Kementerian Kesehatan  dalam Penguatan Pelayanan Kesehatan Primer meliputi  peningkatan jumlah, sebaran, komposisi, dan mutu tenaga kesehatan berbasis tim serta mendukung pelaksanaan Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dan Kartu Indonesia Sehat (KIS).
Berdasarkan surat No. DM.02.02/2.1/0038/2016 yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan tanggal 13 Januari 2016, disampaikan bahwa tenaga kesehatan tim nusantara sehat tahun 2016 akan direkrut sebanyak 130 tim untuk ditempatkan di 130 puskesmas di Daerah Terpencil Perbatasan Kepulauan dan Daerah Bermasalah Kesehatan di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Rekruitmen periode pertama akan dilaksanakan pada tangga  20 Januari - 9 Februari 2016 sebanyak 70 tim, rekruitmen periode kedua akan dilaksanakan pada bulan juni 2016 sebanyak 60 tim.
Jadi, buat kalian yang ingin Indonesia Maju, Indonesia yang Lebih Sehat
Mulailah Tunjukan Aksimu ! Tunjukan Baktimu !
Daftarkan dirimu di http://nusantarasehat.kemkes.go.id/dan kalian akan menjadi keluarga Nusantara Sehat, Siap Membangun Kesehatan dari Pinggiran.
Salam Sehat, Salam Nusantara Sehat


  Upaya promotif dan preventif /pencegahan melalui pendekatan keluarga merupakan strategi dan focus kerja dalam kementrian kesehatan tahun 2016. 
  Promosi kesehatan diharapkan mampu memandirikan masyarakat dalam memelihara kesehatan keluarganya. Karena keluarga merupakan salah satu faktor pembentuk perilaku seseorang. Dalam keluargalah, segala sesuatu pada diri manusia dimulai. Sejak dalam kandungan, bayi membutuhkan keluarga dalam hal itu ibu dan ayah untuk memberikannya asupan makanan untuk berkembang dan hingga dewasa seorang manusia diasuh oleh keluarga. 
   Keluarga yang sadar akan kesehatan akan membawa keluarganya menjadi keluarga yang sehat kedepannya. Dari satu keluarga sehat akan terbentuk keluarga sehat lainnya sehingga pada akhirnya dari keluarga sampai dalam ruang lingkup luas yaitu kabupaten, yang akan menjadi kabupaten bersih dan sehat. Ini adalah impian yang sangat mungkin diwujudkan kalau setiap keluaga sadar akan pentingnya menjaga kesehatan dan lingkungannya. 
     Tindak lanjut dari strategi ini didukung oleh anggaran, "Upaya promotif dan preventif tahun 2016 sekitar Rp 17.2 triliun. Anggaran bersifat kuratif Rp 11,2 triliun," kata Menteri Kesehatan Nila Farid Moeloek kepada wartawan di Jakarta, Selasa (5/1). Anggaran bantuan operasional kesehatan (BOK) untuk puskesmas juga meningkat. Peningkatan dana Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) puskesmas diharapkan mampu menyelesaikan masalah kesehatan dengan peningkatan akses pelayanan melalui kegiatan promosi kesehatan. 
     Promosi kesehatan bukan sekedar promosi namun dikemas baik agar pengetahuan kesehatan dapat diaplikasikan dalam kehidupan masyarakat. Sehingga beberapa tahun kemudian hasilnya dapat kita panen yaitu derajat kesehatan masyarakat yang meningkat. Sekretaris Jenderal Kemenkes Untung Suseno Sutarjo menambahkan, total anggaran fungsi kesehatan tahun 2016 Rp 105 triliun, tersebar di sejumlah kementerian dan lembaga selain Kemenkes. Dari Rp 105 triliun itu, anggaran kesehatan di Kemenkes saja Rp 63 triliun. Penguatan puskesmas, ujar Untung, terlihat dari anggaran infrastruktur (pengadaan fasilitas) untuk puskesmas. Dana BOK yang dulu Rp 2,5 triliun kini naik menjadi Rp 4 triliun. 
       Direktur Jenderal Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak Kemenkes Anung Sugihantono menuturkan, di bidang gizi dan kesehatan ibu dan anak, tahun ini upaya promotif dan preventif dengan pendekatan keluarga akan lebih difokuskan di 472 puskesmas di sembilan provinsi Provinsi itu; DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Banten, Bali Sumatera Utara, Sumatera Selatan, dan Sulawesi Selatan. Sembilan provinsi itu dapat prioritas karena punya daya ungkit terhadap penurunan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB). Selain BOK, puskesmas di sembilan provinsi itu juga dapat dana alokasi lokus prioritas yang jumlahnya Rp 40 - 50 juta per puskesmas," tutur Anung. 
       Puskesmas harus lebih berkomitmen untuk menjalankan upaya promosi dan preventif serta menjangkau masyarakat hingga tingkat keluarga melalui kegiatan home visit(kunjungan rumah). Home visit merupakan salah satu upaya untuk mendekatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat dimana tenaga kesehatan mendatangi rumah masyarakat untuk menyelesaikan masalah kesehatan. Konsultasi dan observasi merupakan kegiatan home visit sehingga semua aspek sumber masalah kesehatan dalam keluarga baik lingkungan maupun perilaku anggota keluarga dapat diketahui. 

Salam sehat untuk pembaca tercinta..
Sehat Bangsaku, Sehat Negeriku..
#akunusantarasehat

Sumber : Kompas.com
10 Desa Bebas Asap Rokok Di Indonesia - asap rokok memang kadang mengganggu orang lain didekatnya yang tidak merokok, kalau sesama perokok mungkin menjadi suatu hal yang biasa, tapi bagaimana dengan yang tidak merokok ? Pasti sangat merokok, bahkan lebih bahaya perokok pasif daripada perokok Aktif .
Berikut ini akan sedikit ulasan tenatang 10 Desa Bebas Asap Rokok Di Indonesia Desa itu adalah :

1. Desa sitiung, Sumatera Barat
Nagari (Desa) Sitiung merupakan desa pertama di Indonesia yang bebas asap rokok. Desa yang terletak di Kecamatan Sitiung, Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat, ini melarang warganya untuk merokok. Warga yang tertangkap merokok di sembarang tempat diberikan sanksi tegas dari desa.

Tidak hanya melarang warganya untuk merokok, Pemerintah Nagari Sitiung juga memberikan penghargaan kepada masyarakat yang semula merokok dan menyatakan tidak merokok lagi.

Wali Nagari (Kepala Desa) Sitiung, Syarifuddin, yang ditemui seusai memberikan penghargaan kepada masyarakat yang berhenti merokok, mengatakan, pemerintah desa dan masyarakat telah sepakat membuat peraturan nagari (desa), yakni larangan merokok bagi masyarakat di sembarang tempat dan menetapkan kawasan bebas asap rokok.


2. Desa Bulaksari 7, Jawa Timur
Nun jauh di sebuah Kampung Bulaksari 7 di ceruk Kecamatan Mampir, Surabaya, suasana begitu tenang pada siang hari. Kelihatan beberapa orang suri rumah sedang memampatkan surat khabar lama, kotak-kotak serta beberapa ikat naskhah majalah di laman rumah. Mereka akan membawa ikatan-ikatan kertas-kertas lama ini ke pekan untuk dijual kemudian hasil jualan lusuh ini akan disalurkan ke dalam dana untuk membangunkan kampung mereka.
Di suatu kawasan lain kelihatan sekumpulan lelaki sedang membersihkan longkang, memotong rumput serta menanam pokok bunga sebagai hiasan. Tidak kira lelaki mahupun perempuan, masing-masing tidak lokek tenaga membanting tulang sama-sama membangunkan kampung.
Ya, seluruh Surabaya dan sekitar Jawa mengetahui tetangga Bulaksari 7 begitu teguh perpaduan antara mereka. Setiap bulan ada saja pertemuan antara tetangga untuk bermesyuarat dan bertukar-tukar pandangan bagaimana untuk mengindahkan lagi persekitaran kampung mereka. Malah, di sini, terbinanya sebuah warung yang diberi nama ‘Gotong-royong’ yang menjual makanan di mana perolehannya digunakan untuk membeli peralatan seperti cangkul, benih pokok, sabit dan pelbagai peralatan lain kegunaan penduduk kampung.

3. Desa bone-bone, Sulawesi Selatan


Bagi para perokok, secangkir kopi panas biasanya belum cukup menghangatkan tubuh di daerah ketinggian yang berhawa dingin. Rasa menggigil seolah baru benar-benar sirna ketika merokok. Namun, sugesti itu mentah di kalangan warga Desa Bone-Bone, Kecamatan Baraka, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, yang berlokasi di kaki Gunung Latimojong, 1.500 meter dari permukaan laut. Suasana antirokok begitu terasa saat memasuki desa yang berpenduduk 801 jiwa tersebut.
Tanda larangan merokok langsung terpampang pada baliho besar tepat di gerbang masuk Desa Bone-Bone, sekitar 300 kilometer sebelah utara Kota Makassar. Sejumlah papan berisi larangan merokok dan imbauan untuk menjaga kesehatan juga menghiasi sudut-sudut desa seluas sekitar 800 hektar itu. Welly P (67), warga Dusun Buntu Billa, sudah 10 tahun terakhir tidak lagi merokok. Kebiasaan itu ia tinggalkan seiring diberlakukannya larangan merokok di Desa Bone-Bone tahun 2000. Meskipun awalnya tersiksa karena mengaku sulit berkonsentrasi, lambat laun Welly mulai menuai manfaat berhenti merokok.

4. Desa Ngunut, Yogyakarta

Memasuki salah satu desa di pinggiran Gunungkidul sebelah barat. Tepatnya desa Ngunut, Kecamatan Playen, Kabupaten Gunungkidul saya di sambut sebuah Gapura Bertuliskan Kawasan Dilarang Merokok. Namun demikian larangan itu hanya berlaku untuk tempat-tempat publik atau yang menghadirkan banyak orang dimana terdapat juga orang-orang yang tidak merokok. Hak dari non-perokok di desa ini sangat di hormati. Namun juga masih toleran terhadap pecandu rokok yang belum bisa meninggalkan kebiasaan buruknya.

Ketika memasuki desa ini lebih baik jangan mencoba menyalakan rokok di tempat umum. Karena warga setempat akan menegur anda dengan keramahan yang mungkin bisa meneror inteltualitas anda.

5. Desa Cikidang, Jawa Tengah
Boleh juga kiat Pemerintah Desa Cikidang, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, "menceraikan" warganya dari kebiasaan merokok. Melalui Peraturan Desa Nomor 10 Tahun 2009 tentang Ketentuan- Ketentuan yang Mengatur Ketertiban Desa, seluruh warga dilarang merokok di tempat umum dan mewajibkan tidak merokok hari Jumat. Bagi warga yang telah menjadi pecandu rokok telah disediakan tempat untuk merokok, yakni Poskamling.
"Jika ternyata ada warga yang merokok di luar tempat itu, kami telah menyiapkan sanksi bagi mereka, yakni membayar denda berupa telur sebanyak rokok yang dikonsumsi," kata Kepala Desa Cikidang, Dikrun, di Cikidang, Cilongok, Banyumas, Senin. Telur-telur itu selanjutnya diberikan kepada posyandu untuk dibagikan kepada anak balita di desa itu sebagai makanan tambahan.

6. Desa Celep, Jawa Tengah

Berbagai upaya dilakukan untuk menghentikan kebiasaan merokok. Misalnya di Desa Celep, Sragen, Jawa Tengah. Khusus Jumat, warga di desa ini dilarang merokok. Larangan tersebut berdasarkan kesepakatan warga yang dituangkan dalam sebuah baliho berukuran besar yang dipasang di tengah desa.
Informasi yang didapat SCTV, Kamis (8/4), agar larangan itu dapat efektif, seorang satuan tugas disiagakan untuk mengontrol warga di hari itu. Seorang warga yang kedapatan merokok akan langsung dikenai denda Rp 500. Dana itu dikumpulkan di kas desa dan digunakan untuk membeli fasilitas umum untuk kepentingan bersama.
Larangan merokok ini sengaja hanya diberlakukan satu hari dalam sepekan sebagai upaya awal menghentikan kebiasaan merokok. Namun, sesuai kesepakatan, di masa mendatang pemberlakuan larangan merokok akan terus ditambah hingga kebiasaan merokok di kalangan warga setempat bisa dihilangkan.

7. Dusun Karangmulyo, Jawa Timur

Hanya seperangkat kursi dan meja usang yang mengisi ruang tamu milik Ariyono, 38 tahun, si empunya rumah warga Dusun Karangmulyo Desa Jeruk Kecamatan Gucialit Kabupaten Lumajang Jawa Timur. Taplak meja pun terlihat berlubang di sana-sini seperti bekas sundutan rokok. Kendati demikian, tidak ada asbak di rumah itu yang lazimnya ada di rumah-rumah dan dusun terpencil.
Begitu pula dengan puluhan rumah lainnya di dusun yang berada di kaki Gunung Ringgit, sekitar 25 kilometer dari pusat kota. Tidak ditemukan asbak dalam rumah-rumah mereka. “Sebagian besar rumah di dusun ini tidak menyediakan asbak di ruang tamunya,” kata Ariyono.
Hal ini berlaku sejak sebulan terakhir setelah pada 8 Desember 2010 lalu, puluhan warga setempat mendeklarasikan larangan merokok di dalam rumah. Deklarasi yang dilakukan di Masjid Baitussalam itu dihadiri sejumlah pejabat di antaranya Tutuk Fajriatul Musthofiah, istri Wakil Bupati Lumajang As’at Malik, Kepala Dinas Kesehatan Buntaran Supriyanto, Camat Gucialit Bakrie serta sejumlah pejabat lainnya. Dusun yang juga berjuluk Pendem itu berpenduduk sekitar 200 kepala keluarga atau 797 jiwa.

8. Dusun Muhajirun, Lampung


Ketahuan Merokok, Pelajar Langsung Digunduli, jika di Jakarta dibutuhkan perda untuk melarang merokok di tempat umum, di sebuah desa di Kabupaten Lampung Selatan, Lampung, tidak seperti itu. Di sana larangan merokok diberlakukan secara "adat", tapi berjalan efektif dan sudah berlangsung 33 tahun.
Rumah-rumah di kampung itu kebanyakan dibuat semipermanen. Ada yang berdinding tembok, ada pula yang papan. Di pekarangan setiap rumah warga terlihat bermacam pohon buah-buahan. Di antaranya jeruk dan mangga. Di pintu gapura dusun terlihat tulisan cukup besar: Anda Memasuki Kawasan Dilarang Merokok dan Wajib Berbusana Muslim. Kalimat tersebut, agaknya, menjadi napas bagi dusun yang berpenghuni 180 kepala keluarga (KK) itu.

9. Desa Sidoluhur, Yogyakarta

Kawasan bebas asap rokok merupakan upaya bersama untuk memberikan pemahaman dan kesadaran bagi warga masyarakat akan pentingnya menghindari bahaya asap rokok dan bukan menghalangi orang untuk merokok. Oleh karenanya diperlukan upaya-upaya yang sungguh-sungguh dan terkelola dengan sebaik- baiknya.
Dusun Kunden III, Desa Sidoluhur, Kecamatan Godean, Kabupaten Sleman merupakan salah satu dusun di Kabupaten Sleman yang telah mengawali pembentukan Pokja Kawasan Bebas Asap Rokok.
Pokja yang diketuai oleh Eko Raharjo ini, memiliki misi mewujudkan Dusun Kunden III Bebas Asap Rokok dengan meningkatkan persentase keluarga dan generasi muda tidak merokok.
Adapun program-program yang telah dilaksanakan antara lain: pendataan keluarga tidak merokok; pemasangan stiker keluarga tidak merokok dan merokok di luar rumah; penyuluhan kesehatan dan bahaya asap rokok; pembinaan remaja dan pendataan remaja tidak merokok; konsultasi berhenti merokok.

10. Desa Singosaren, Yogyakarta


Singosaren, merupakan gebrakan awal Muda Mudi Kuncup Mekar (MMKM) untuk berpartisipasi mewujudkan lingkungan yang sehat. Pasalnya, pada hari itu, MMKM mengajak seluruh warga di dusunnya, Dusun Sarirejo I Desa Singosaren, untuk berkomitmen dan mendeklarasikan bahwa rumah mereka bebas asap rokok. Sebagai penandatangan deklarasi adalah Lurah Desa,
Kepala Dukuh Sarirejo I, Ketua RT 02, RT 03, dan RT 04, Ketua Pokgiat, dan Warga Masyarakat. Gebrakan ini merupakan ajakan positif bagi para perokok untuk menjadi perokok yang toleran. Tiga poin dalam deklarasi antara lain,
  • (1) tidak merokok di dalam rumah.
  • (2) tidak merokok dalam pertemuan warga,
  • (3) tidak menyediakan asbak di dalam rumah ataupun dalam pertemuan warga.
Ketentuan ini tidak hanya berlaku untuk warga setempat tetapi juga tamu yang berkunjung kesana.
Program Rumah Bebas Asap Rokok sendiri merupakan inisiasi dari MMKM bekerjasama dengan Karang Taruna Jaya Kusuma. Dalam hal ini, KT Jaya Kusuma berperan sebagai penghubung antara MMKM dengan Dinas Kesehatan Kab.Bantul dan Quit Tobacco Indonesia (QTI). Dua lembaga yang menjadi penggagas program Rumah Bebas Asap Rokok di wilayah Kab. Bantul.
VIVA.co.id - Pemerintah melalui Kementerian Riset dan Teknologi (Kemristek) serta Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengawal dan mendukung pengembangan riset Electrical Capacitive Volume Tomography (ECVT) dan Electro Capacitive Cancer Treatment (ECCT), yang merupakan inovasi Dr Warsito Purwo Taruno.

Alat pengembangan berupa rompi hitam anti kanker ini sebelumnya menemui kendala karena tak sesuai dengan protokol medis. Karena itu, Kemristek dan Kemenkes memediasi riset Dr Warsito.

"Pemerintah akan memediasi para peneliti dengan pemilik usaha. Ini harus dikembangkan. Pemerintah mendukung riset anak bangsa agar dapat bermanfaat untuk masyarakat," kata Menteri Ristek, Mohammad Nasir saat kunjungan ke klinik CTECH Labs Edwar Technology milik Dr Warsito di Alam Sutra, Tangerang, Senin, 11 Januari 2016.

Dengan demikian, Kemenkes menyampaikan dukungannya untuk kelanjutan penelitian Dr Warsito, namun sesuai dengan standar yang ditentukan.

"Kita akan melanjutkan penelitian yang dilakukan oleh Dr Warsito. Tentu ada standar yang harus dijalani agar sejalan dengan standar kesehatan Indonesia," ujar Kepala Balitbangkes, drg Tritarayati Plt.

Riset ECCT merupakan turunan dari ECVT dan teknologi terapi kanker ini akan dikawal terhadap setiap kegiatan Dr Warsito. Sejumlah rumah sakit direncanakan akan menggunakan alat terapi kanker tersebut.

"Pasien mengeluarkan biaya sebesar Rp7 juta hingga Rp10 juta untuk alat ini. Total yang terobati sudah 6.000-an pasien," ucap Dr Warsito.



Sumber>>>life.viva.co.id
Peningkatan jumlah pengidap obesitas dan berat badan yang tidak sehat dapat dikaitkan dengan jumlah kasus kanker tambahan yang mencapai 670.000 dalam 20 tahun ke depan, menurut kajian lembaga Inggris.

Penelitian terbaru menunjukkan obesitas terkait dengan beberapa jenis kanker, antara lain kanker esofagus (tenggorokan), rahim, dan tumor usus.

Dalam studi ini, sejumlah peneliti menggunakan sistem pemodelan komputer, bersama-sama dengan data kesehatan di masa lampau dan sekarang, untuk memprediksi dampak dari obesitas selama 20 tahun ke depan.

Hasil penelitian mereka menunjukkan peningkatan jumlah orang yang memiliki kelebihan berat badan atau obesitas akan berkontribusi terhadap 4,6 juta kasus tambahan penyakit diabetes tipe-2 dan 1,6 juta kasus tambahan penyakit jantung pada 2035.

Dan para ahli memperkirakan hal ini dapat menyebabkan meningkatnya biaya tambahan sebesar £2,5 miliar untuk Layanan Kesehatan Nasional Inggris pada tahun 2035.

Guna mencegahnya, lembaga riset kanker Inggris dan forum kesehatan Inggris menyerukan sebuah laporan berisi sejumlah rekomendasi, termasuk seruan kepada stasiun-stasiun televisi untuk memotong sejumlah iklan yang menayangkan makanan tidak sehat.



Rekomendasi lainnya ialah menetapkan pajak sebesar 20 sen per liter untuk minuman yang mengandung pemanis dan mengevaluasi bagaimana makanan itu diiklankan secara daring.

Profesor Susan Jebb, di Universitas Oxford, mengatakan meski ia menyambut sejumlah masukan untuk membatasi masalah obesitas, namun ia melihat laporan ini mengabaikan kebutuhan untuk mendanai orang-orang yang sudah mempunyai kelebihan berat badan.

"Kebanyakan orang tahu bahwa merokok dapat menyebabkan kanker, tapi untungnya, kebanyakan orang di Inggris sekarang tidak merokok. Dan bagi mereka, menjaga berat badan adalah hal yang paling penting yang dapat mereka lakukan untuk mengurangi risiko terkena kanker," kata Jebb.

Para pejabat dari Departemen Kesehatan mengatakan mereka telah melarang iklan yang menampilkan makanan rendah gizi atau junk food selama program televisi untuk anak-anak berlangsung dan akan meluncurkan strategi obesitas anak-anak dalam waktu dekat.

Jika kecenderungan ini terus berlanjut, para ahli mengatakan, hampir tiga dari empat orang dewasa bisa memiliki kelebihan berat badan atau obesitas pada tahun 2035 nanti, dan hal itu menyebabkan sejumlah masalah kesehatan.
Mengapa obesitas dikaitkan dengan kanker?

Ada sejumlah teori yang mencoba menjelaskan, di antaranya:

    Jaringan lemak dapat menghasilkan jumlah kelebihan hormon tertentu yang dapat mengganggu pertumbuhan sel-sel normal.
    Obesitas dapat menyebabkan peradangan pada jaringan, yang pada gilirannya dapat meningkatkan risiko jaringan tersebut menjadi kanker.
    Lemak bisa mengganggu langkah protein yang dirancang untuk menjaga pertumbuhan sel.


                                                                                                                           Sumber>>www.bbc.com


Badan Kesehatan Dunia (WHO) untuk pertama kalinya mencanangkan pekan peduli antibiotik Sedunia pada 16-22 November 2015. Melalui kampanye Antibiotics: Handle With Care, WHO mengajak masyarakat untuk memanfaatkan antibiotik dengan tepat.

Penanggung jawab resistensi antimikroba WHO Indonesia, Dr Dewi Indriani mengatakan pekan kepedulian ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran bahaya kekebalan antibiotik dan menggalakkan praktek yang baik pada masyarakat, petugas kesehatan dan pembuat kebijakan.

"Situasi resistensi antibiotik di dunia saat ini dalam level yang sangat berbahaya, dan mengancam seluruh negara di dunia," katanya saat temu media di Bilangan Kuningan, Jakarta, Kamis (12/11/2015).

Sekretaris Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba (KPRA), dr Anis Karuniawati, PhD, SpMK(K) menuturkan, cara utama untuk menekan percepatan kekebalan bakteri ini adalah dengan pemanfaatan antibiotik yang bertanggung jawab, yaitu hanya untuk penyakit yang memerlukan antibiotik sesuai resep dan dosis serta waktu yang tepat.

"Memanfaatkan antibiotik berarti nemperpanjang masa ampuh obat. Karena jika antibiotik tidak lagi efektif, jadi sulit sembuh dan menyebabkan kematian," ungkapnya.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan resistensi antibiotik adalah salah satu masalah kesehatan global di dunia modern dan menjadi salah satu tantangan terbesar dunia kesehatan.

Asumsi kematian akibat kuman resistensi antibiotik di Indonesia menurut riset tersebut yaitu kurang lebih 130 ribu per tahun.



Sumber>>>liputan6.com